Satu lagi politisi yang naik daun akibat kasus Century ialah Maruarar Sirait, anggota Fraksi PDIP yang merupakan inisiator hak angket Century sekaligus panitia angket Century. Pria yang akrab disapa Ara tersebut, dikenal sebagai salah satu tokoh muda PDIP yang sangat vokal di DPR. Karena sikap vokal dan temperamennya yang terkadang tinggi itu, Ara
kerap bersitegang dengan sejumlah tokoh, seperti politisi Demokrat Ruhut
Sitompul dan Direktur Eksekutif LSI Saiful Mujani. Namun biasanya, Ara
cepat pula mendinginkan pertikaian yang melibatkan dirinya itu.
Dunia
politik bukanlah hal baru bagi pria kelahiran Medan itu, karena ia
memang berasal dari keluarga besar politisi. Ara kecil telah sangat
terbiasa dengan hiruk-pikuk politik. Ia pun dibesarkan dengan nuansa
politik di sekitarnya. Maklum, ayahnya, Sabam Sirait, ialah politisi
kawakan PDIP yang masuk ke dalam lingkaran orang-orang terdekat Megawati
Soekarnoputri, Ketua Umum PDIP yang merupakan putri presiden pertama
RI, Soekarno. Darah politisi sang ayah tak pelak mengalir di dalam diri
Ara.
Ketika ayahnya duduk sebagai Sekjen PDI pada tahun 1987, Ara
masih duduk di bangku SMU. Namun, ketika itu pun dia telah bersentuhan
dengan hingar-bingar politik. Saat SMU ini, Ara menjadi saksi di salah
satu Tempat Pemungutan Suara (TPS) di daerah Jakarta Selatan. Kemudian,
ketika PDI berevolusi menjadi PDIP, Ara pun tak segan untuk bergabung
dengan PDIP, mengikuti jejak sang ayah yang meniti karir di partai
banteng tersebut.
Ara mengakui, faktor lingkungan sangat
berpengaruh terhadap pilihan politiknya itu. Bahkan, selepas studinya
di Universitas Parahyangan, Ara langsung terpilih menjadi pengurus DPD
PDIP Jawa Barat. Ia pun kini menjadi Ketua DPP PDIP Bidang Kepemudaan.
Bersama kader muda PDIP lainnya, ia kemudian mendirikan Taruna Merah
Putih guna menggali potensi kaum muda PDIP.
Uniknya, kini Ara
duduk di parlemen bersama-sama dengan sang ayah, Sabam Sirait.
Bagaimanapun, Ara tak ambil pusing dengan nama besar ayahnya. Alih-alih
berada di bawah bayangan sang ayah, Ara kini justru melejit menjadi
salah satu politisi muda PDIP yang cukup diperhitungkan. Keaktifannya
dalam pansus Century seolah menjadi pembuktian atas kemampuan dirinya.
“Pokoknya saya bekerja profesional. Biarkan publik yang menilai saya,”
ujarnya suatu saat kepada media.
Ayahnya sendiri tak pernah
terlihat berjalan bersama-sama dengan Ara di Gedung DPR. Mereka tampak
memiliki aktivitas masing-masing yang saling terpisah. Namun, bukan
berarti Sabam tak peduli pada sang putra. Pada suatu acara diskusi yang
mempertemukan Sabam dengan politisi-politisi senior lainnya dari
berbagai fraksi, di mana mereka melontarkan pujian kepada Sabam karena
ia memiliki sosok anak yang dipandang cukup berhasil, Sabam sempat
berbisik kepada salah seorang di antara mereka. “Tapi Anda lebih senior
daripada Ara. Jadi tolong ingatkan Ara apabila ia melakukan kesalahan,
supaya dia bisa terus berjalan lurus,” demikian bisik Sabam ketika itu.
“Saya
tentu selalu berupaya menjaga nama baik keluarga saya,” kata Ara dalam
kesempatan terpisah. Pernyataan Ara itu dapat dimaklumi, karena dinasti
politik Sirait cukup punya nama. Nama 'Sabam Sirait' bahkan diabadikan
menjadi nama jalan lingkar luar (ring road) di Porsea, Toba Samosir,
kampung halaman keluarga Sirait. Sebagai putra daerah Samosir, keluarga
Sirait dinilai banyak memberikan kontribusi, baik kepada negara maupun
tanah kelahirannya.
Selain memiliki hubungan darah langsung
dengan politisi berpengaruh PDIP, Sabam Sirait, Ara pun memiliki
hubungan kekeluargaan dengan politisi senior PDIP lainnya, Panda
Nababan. Pasalnya, Panda adalah besan Sabam. Salah satu putra Panda
rupanya menikah dengan saudara perempuan Ara. Dengan demikian, darah dua
politisi kawakan PDIP sangat kental mengalir di keluarga besar Sirait.
Ini juga yang menjadi alasan kesetiaan Ara kepada PDIP, wadahnya
berjuang. “Tanpa PDIP, saya bukan apa-apa,” tandas Ara kepada VIVAnews.
• VIVAnews
|